Selasa, 14 Januari 2020

Hidup Seimbang

Mencapai hidup yang seimbang adalah sesuatu yang sangat penting. Tentu saja, mencapai hidup seimbang bukan perkara mudah. Tetapi yang perlu ditekankan disini adalah kalau hidup kita tidak seimbang pasti akan mengalami gangguan di salah satu sisi pada hidup kita. Bagi saya, orang yang hidup seimbang adalah orang yang mampu membagi waktu yang hanya 24 jam dalam sehari, yang hanya 30 hari dalam 1 bulan, yang hanya 365 hari dalam 1 tahun dalam hidupnya ini, untuk beraktivitas untuk meningkatkan kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan intelektual (IQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Langsung saja ya, berikut tips hidup yang seimbang lebih lengkapnya dari saya:

Pertama, meningkatkan kecerdasan emosi. Dari namanya saja sudah jelas, yaitu emosi. Emosi adalah suatu perasaan senang, sedih, gembira, marah dan jenis emosi lainnya. Ada salah kaprah pengertian di masayarakat Indonesia bahwa emosi adalah marah. Padalah emosi adalah soal suasana hati, dimana suasananya bisa marah, sedih, senang, dll. Jadi orang yang memiliki kecerdasar emosi adalah orang yang tahu kapan harus marah, sedih, senang, dll. Jadi kalau ada anak yang meminta dibelikan motor kepada orang tuanya saat orang tua sakit berarti anak itu tidak memiliki kecerdasan emosi dikarenakan dalam suasana orang tua sedang sakit harusnya anak tersebut dalam suasana emosi sedih dan ikut prihatin, bukan malah gembira dan minta dibelikan motor. 

Pertanyaannya, bagaimana cara untuk meningkatkan kecerdasan emosi? Jawabannya: kecerdasan emosi hanya bisa diasah dengan cara lebih rajin interaksi atau bersosial. Kenapa bisa begitu? Ya.. karena ketika berinteraksi atau bersosial, emosi kita akan dilatih untuk memahami suasana emosi atau perasaan orang lain atau yang menjadi lawan interaksi kita. Disitu akan menjadi suatu kebiasaan. Manfaat lainnya, dengan bersosial, kita akan tahu aturan-aturan umum dalam bermasyarakat.

Sebelum melakukannya, interaksi atau bersosial itu ada macam-macam. Yaitu bersosial satu orang dengan satu orang artinya kita hanya ngobrol dan berinteraksi dengan 1 orang. Ada juga interaksi satu orang dengan 2 orang, 3 orang, dst, itu artinya kita sedang bergaul dengan kelompok orang, ngobrol dengan beberapa teman, dll. Ada juga interaksi satu orang dengan banyak orang. Contoh jenis bergaul yang ini yaitu misal ikut organisasi, dll.

Kedua, meningkatkan kecerdasan intelektual. Meningkatkan kecerdasan intelektual berarti melakukan aktivitas yang dapat mengasah otak. Meningkatkan kecerdasan intelektual dapat diibaratkan kita mengasah pisau. Untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, hanya dapat dilakukan dengan 1 cara yaitu dengan cara menambah ilmu pengetahuan. Cara menambah ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan berbagai cara, misal mendengar pengalaman orang dimana dari pengalaman orang itu kita dapat belajar dan memperoleh ilmu, membaca buku (pada hakekatnya buku juga merupakan sang penulis buku seperti sedang berbicara dengan pembaca), merenung di WC dapat ilmu, dll. Itulah kenapa ada pepatah yang bilang kalau ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja. Tapi tentu ilmu pengetahuan dari buku lebih dapat diandalkan karena pengetahuan yang ada di buku diperoleh dari hasil penelitian, pengujian, dll.  

Ketiga, meningkatkan kecerdasan spiritual. Dari namanya saja sudah jelas yaitu Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spirit. Spirit berarti kekuatan. Untuk meningkatkan kecerdasarn spiritual, lakukanlah aktivitas yang dapat meningkatkan spirit atau kekuatan disaat kita terpuruk, lakukan aktivitas yang dapat meningkatkan motivasi saat sedih dan bisa bangkit. Contohnya rajin ibadah shalat. Kenapa shalat dapat meningkatkan kecerdasan spirit? Karena ketika kita shalat, baik shalat wajib, shalat tahajud misalnya kita bisa berdo'a dan seperti punya harapan baru sehingga membangkitkan spriti. Begitu pula bagi umat nasrani, kecerdasan spirit dapat meniingkat dengan pergi ke gereja. Tentu saja, meningkatkan kecerdasan spirit tidak hanya bisa dilakukan dengan cara proses agama saja, tetapi maknanya luas, misal mendengarkan orasi motivator, mendengarkan ceramah dll yang intinya adalah dapat meningkatkan spirit kita.

Dari penjelasan 3 point di atas, kalau kita hanya fokus di salah satu saja maka akan terjadi ketidak seimbangan hidup. Misal: waktu yang kita punya hanya digunakan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ), maka kita akan jadi orang kuper. Kalau kita hanya fokus meningkatkan kecerdasan emosi (EQ), maka kita akan menjadi orang yang gaul, tapi tidak cerdas karena tidak pernah meningkatkan IQ. Mungkin bagi anak kampus, kalau terlalu banyak bergaul nilai kuliah jadi jeblok. Kalau kita terlalu fokus kepada meningkatkan kecerdasan spirit, contoh kasusnya mungkin ada yang bunuh diri karena putus asa dengna hidupnya,  jadi teroris karena hanya fokus ke melakukan aktivitas spiritual ibadah rutin padahal ibadah bervariasi (misal shalat, mencari nafkah, menuntut ilmu, bersosial juga adalah ibadah. Saya menyebut variasi ibadah ini sebagai diversifikasi ibadah. Itulah kenapa nabi mengatakan bahwa semua dalam hidup kita kalau untuk kebaikan adalah ibadah), dll.

Itulah sedikit tips dari saya agar hidup seimbang. Semoga bermanfaat ya...

Orang Sunda dan Orang Jawa Ayo Bersatu..

Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara orang Sunda dan orang Jawa seperti terlihat tidak akur. Alasan klasiknya adalah karena perang Bubat. Entahlah. Walau para ahli sejarah sepertinya terus menggali tentang benar atau enggak telah terjadi perang bubat. Biarkan para ahli sejarah yang mencari itu. Tapi pendapat saya, ada beberapa point penting yang ingin saya sampaikan terkait perang bubat berdasar beberapa referensi:

  1. Ketika perang bubat terjadi, ada salah satu prajurit yang pura-pura mati. Kemudian mengabarkan gugurnya Linggabuana dan rombongan, ke kerajaan Sunda.
  2. Setelah perang bubat, katanya Maharaja Hayam Wuruk, ditemani Gajah Mada dan beberapa Pasukan moksa ke Majalaya, Kab. Bandung. Buktinya ada mahkota yg bercorak Jawa ditemukan di Majalaya. Dimana mahkota itu ada Burung Garuda dan Tongkat Komando. Di Sunda tidak ada jenis mahkota seperti itu. Ini sedang dikaji oleh para peneliti. Mitos masyarakat di Majalaya juga ada yang sebagian tahu kalau mahkota itu milik Hayamwuruk berdasarkan cerita turun temurun.
  3. Yg saya heran, kenapa rakyat Jawa sampai saat ini masih tidak percaya perang bubat terjadi. Logika saja, rakyat Jawa percaya kisah ken arok dan ken dedes yg sumbernya dari kitab Paparaton. Perang Bubat juga dibahas sekilas di kitab Paparaton. Kalau diibaratkan kitab Paparaton adalah buku, masa percaya satu bagian bab sementara bagian bab lainnya diingkari. Tidak masuk akal.
  4. Bagi saya pribadi, benar telah terjadi perang bubat. Buktinya ada pemberian gelar siliwangi. Tidak mungkin pemberian gelar itu asal-asalan dan pasti ada alasannya bagi kerajaan. 
  5. Saat itu, Kerajaan Majapahit adalah kerajaan adidaya, pasti banyak yang iri dan ingin menjatuhkan. Mungkin saja, ada pihak-pihak oknum saat itu yg mensetting agar Majapahit hancur dengan fitnah, dengan merencanakan melakukan perang bubat dimana disetting fithan bahwa atas nama aktor pelakunya adalah Gajah Mada. 
  6. Pada hakekatnya fitrah manusia adalah cinta kebaikan. Mungkin bagi Rakyat Jawa, Gajah Mada adalah pahlawan. Buktinya diabadikan menjadi nama Universistas Gajah Mada (UGM). Tapi bagi rakyat Sunda, Gajah Mada adalah negatif. Persis seperti rakyat Indonesia yg saat ini memandang Ahok. Sebagian besar rakyat Indonesia memandang Ahok pahlawan berdasarkan keberaniannya membenahi Jakarta. Tapi di sisi lain sebagian besar rakyat Indonesia juga memandang juga Ahok sebagai penista Agama berdasarkan fakta hukum. Maksud saya, analogi ahok bisa dipakai untuk Analogi tentang Gajah Mada. Kesimpulan saya: Bagi saya perang bubat benar terjadi. Hanya memang siapa yang harus disalahkan tentang siapa aktor yang menyebabkan terjadinya perang ini yang masih harus dicari kebenarannya. Kebenaran akan kisah perang bubat ini, akan membantu rekonsiliasi dua suku terbesar di Indonesia yaitu Jawa dan Sunda. Dua suku inilah yg diharapkan berkontribusi besar memajukan Indonesia sehingga jika kebenaran perang bubat ini belum ditemukan, akan ada rasa saling canggung di level bawah antara Jawa dan Sunda dalam sistem sosial sehingga sedikit sulit bekerja sama dengan maksimal dalam membangun Indonesia ke depan. Terakhir, dalam usaha mencari kebenaran hakiki tentang perang bubat (benar atau tidak terjadi, siapa aktor sebenarnya, dll), perlu sikap negarawan dari masing-masing ilmuwan, budayawan dari Jawa dan Sunda. Jangan ada ego, saling mengklaim sukunya masing-masing adalah superior, dll.

 Entahlah .. hanya Allah yang tahu akan kebenarannya. Daripada membicarakan perang bubat yang tidak ada habisnya, yang jelas faktanya jika kedua suku ini yaitu Jawa dan Sunda bersatu terbukti mampu menjadi kekuatan besar. Buktinya saat rakyat Jawa mengusir berkali-kali penjajah Belanda, mereka tidak berhasil. Begitu juga dengan masyarakat Sunda mengusir Belanda sulit sekali. Tapi setelah Soekarno sekolah di ITB saat itu yang terletak di tanah Sunda, tepatnya di Bandung, bagaimanapun pasti sistem sunda berpengaruh terhadap sistem pemikiran bung Karno, dan akhirnya berhasil membawa Indonesia merdeka. 

Intinya, orang Sunda dan orang Jawa harus bersatu. Karena konflik antara keduanya hanya menghasilkan kendala psikologis sehingga menciptakan hubungan kaku dan kikuk di level masyarakat (terutama masyarakat di akar rumput) apabila orang Sunda dan orang Jawa berinteraksi. Kedua orang dari suku ini seperti sudah tahu aturan-aturan ketika saling bergaul tanpa membicarakan secara gamblang aturannya. Ke depannya harus banyak orang Sunda dan orang Jawa yang saling menikah agar supaya hubungan kedua suku ini lebih lentur. Salam Indonesia

Orang Sunda dan Pemahamannya Terhadap Politik

Hallo semua,
Alhamdulillah malam ini saya dapat menyempatkan kembali menulis di blog saya ditengah-tengah kesibukan saya bekerja. Kali ini artikel yang akan saya tulis adalah tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Sudah lama sekali saya ingin menulis artikel dengan judul ini. Saat menyetir motor, saat di kamar mandi, saat di tempat tidur, di tempat kerja selalu kepikiran ingin mengeluarkan ide pikiran tentang pendapat saya terhadap orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Akhirnya kesampaian juga. Sesuatu yang harus saya syukuri.

Kenapa saya ingin sekali menulis tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik? karena saya merasa resah melihat kondisi di tanah Jawa Barat , terutama di kota-kota besarnya, rata-rata semua fasilitas umum seperti jalan raya yang semrawut, trotoar dipakai untuk pedagang, penggundulan hutan, banjir, fasilitas pendidikan yang amburadul, kotor dan sampah tidak dibuang pada tempatnya dan masalah umum lainnya. Singkat cerita, karena kepedulian saya pribadi, saya kemudian merenung dan menyimpulkan bahwa orang sunda cenderung rata-rata individualis, sulit diajak bekerjasama dan jarang mau terlibat terhadap kegiatan-kegiatan untuk kepentingan umum, ceuk bahasa sunda namah hare-hare. Dengan sikap kehare-harean inilah membuat orang sunda menjadi tidak peduli terhadap kepentingan umum sehingga masalah-masalah umum terjadi. Walaupun saya juga mengerti bahwa sikap kehare-harean orang sunda salah satunya karena faktor geografis yang mana orang sunda rata-rata hidup di daerah pegunungan sehingga cenderung lebih suka jarang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain sehingga jarang berkoordinasi dalam sistem kehidupan sosial dan membentuk rata-rata menjadi karakter individualis.Tentu ini adalah tantangan orang sunda. Kita lanjut ya...

Kesimpulan saya tentang orang sunda kemudian diperkuat ketika saya berlibur ke Yogyakarta dan ke Surabaya 1 bulan yang lalu saat sekalian honey moon pernikahan saya dengan istri saya. Betapa kagetnya saya, melihat rata-rata jalanan di kota Yogyakarta, Surabaya, rapih, hampir tidak ada trotoar yang dipakai untuk berdagang, orang-orangnya rata-rata tertib, jalanan tidak terlalu macet, jalanan ke pelosok desa saat menuju candi borobudur dan prambananpun rapih dan saya sangat menikmatinya. Dari sini saya kemudian berfikir apa yang menyebabkan perbedaan antara di tanah Sunda dan di tanah Jawa terjadi. Ditanahnya orang-orang Jawa kok serapih ini, tertib, fasilitas umumnya memiliki fasilitas yang cukup baik. Singkat cerita pula akhirnya saya juga merenung dan berkesimpulan yang kedua, bahwa orang-orang Jawa sangat mencintai fasilitas umum, patuh terhadap pemerintah, mau terlibat terhadap mengurus fasilitas-fasilitas umum. Kesimpulan ketiga, akhirnya saya tahu kenapa banyak pemimpin negara rata-rata berasal dari suku Jawa, alasannya adalah karena dalam hal-hal mengurus fasilitas umum, mereka sangat baik, sehingga pantas diamanahi dan dianugerai oleh Allah SWT menjadi pemimpin negara dan presiden. Sebuah jabatan yang bertugas mengurus fasilitas rakyat. Bukan karena masalah suku Jawa adalah suku mayoritas sehingga mudah menjadi presiden, tapi fakta menunjukan mereka lebih baik dalam mengurus fasilitas umum.

Oke jadi.. sudah ketemulah masalah utamanya bahwa orang sunda rata-rata individualis, dan kurang peduli terhadap kepentingan umum. Lalu apa hubungannya dengan yang akan saya tulis tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik? Ya.. tentu ada hubungannya. Perlu saya kasih tahu bahwa politik dapat dimaknai sebagai tentang kepentingan umum (versi saya). Orang yang peduli terhadap kepentingan umum adalah pasti orang politik. Kenapa bisa begitu? Begini ya... pada hakekatnya politik itu menurut saya sudah muncul sejak nabi Adam dan siti Hawa (Istirinya) turun ke bumi. Ketika bumi hanya diisi oleh nabi Adam dan siti Hawa, tidak ada konsep, budaya kepentingan umum atau politik muncul. Kenapa demikian? jawabannya karena penghuni manusia hanya ada 2 orang di bumi ini pada saat itu, yaitu mereka berdua saja. Sehingga tidak perlu ada kepentingan umum yang perlu diatur. Namun bayangkan ketika nabi Adam dan siti Hawa mulai memiliki keturunan, manusia semakin banyak, orang semakin berebut sumber daya yang sifatnya terbatas yang dapat disediakan di bumi ini. Akan banyak hal-hal yang harus diatur, seperti pembagian makanan, bagaimana bercocok tanam, bagaimana mengatur sumber air, dan mengatur fasilitas-fasilitas umum lainnya. Bayangkan kalau fasilitas air, bagaimana kalau sistem cocok tanam tidak diatur oleh keturunan nabi Adam yang jumlahnya semakin banyak. Akan ada banyak kekacauan yang terjadi. Jadi... itulah hakekatnya politik. Politik adalah tentang kepentingan umum. 

Kembali ke soal orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Dari dulu orang sunda sudah ditanamkan tidak terjun ke dunia politik, karena politik itu kotor. Ini adalah pernyataan yang sangat berbahaya. Efeknya akan membentuk karakter orang sunda yang cenderung individualis dan tidak peduli kepentinga umum. Bahkan karena tidak mau terjun ke dunia politik, suatu saat identitas orang sunda dan suku sunda akan hilang karena tidak ada orang sunda yang peduli terhadap masyarakat sundanya sendiri. Pemahaman orang sunda selama ini tentang politik yang hanya sebatas politik itu merebut kekuasaan secara curang, gabung menjadi anggota partai, terlibat jadi ketua ormas, adalah pemahaman yang sempit. Saya perlu tekankan bahwa makna politik itu luas, tetapi intinya politik adalah soal kepentingan umum. Jadi, kalau orang terlibat dalam sistem kepentingan umum berarti dia adalah orang politik. Ikut berpartisipasi mencoblok ke TPS, merawat fasilitas WC umum, tidak berdagang di trotoar, menerapkan budaya antri, ikut mendaftar menjadi calon bupati, presiden adalah bentuk dari politik. Sekali lagi fahami bahwa politik adalah soal kepentingan umum. Lebih luas lagi, politik yang bermakna sebagai segala sesuatu tentang kepentingan umum, tidak hanya soal keterlibatannya di partai politik, mendaftar menjadi calon pemimpin negara, tetapi politik juga ada di lingkungan keluarga. Contohnya suami dan istri saling bekerja sama, dimana istri memasak, suami menyetrika, berarti suami istri ini sedang berpolitik, yaitu mengatur kepentingan umum bagi anggota keluarganya. Bayangkan kalau tidak ada kerjasama antara suami dan istri untuk berbagi tugas menyetrika dan memasak. Politik juga terjadi di dunia bisnis. Pemimpin perusahaan mengurus mensejakterakan karyawan adalah berarti pemipin perusahaan tersebut sedang berpolitik atau mengatur kepentingan umum bagi seluruh karyawannya. Jadi sekali lagi politik itu tentang kepentingan umum yang maknanya luas... Itulah kenapa aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon yang artinya manusia adalah hewan yang bermasyarakat. Kita semua bermasyarakat dan ujung-ujungnya tentu adalah mengatur kepentingan umum ketika bermasyarakat.

Saya berharap dari semua yang saya jelaskan di atas, orang sunda semuanya mulai merubah persepsi tentang politik. Ingat politik itu penting, karena politik adalah soal kepentingan umum. Dari tulisan saya di atas dapat pula disimpulkan apa yang akan terjadi kalau seandainya orang sunda tidak peduli terhadap politik. Ingat makna politik itu luas, karena politik adalah soal kepedulian terhadap kepentingan umum. Politik (sebagai kepentingan umum) dapat terjadi di keluarga dimana suami, istri, anak semuanya berpolitik, di perusahaan juga berpolitik, apalagi di dunia pemerintahan juga berpolitik.

Saya adalah orang sunda dan peduli dengan tanah kelahiran saya ini. Mudah-mudahan tulis saya di atas yang dibuat dengan hati yang tulus dapat bermanfaat bagi orang sunda khususnya, dan bagi semua yang membaca artikel saya ini pada umumnya. Terima kasih

Tips Suku Non Jawa Bisa Menjadi Presiden

Pemilu 2024 masih sekitar 2 tahun lebih sejak saya membuat tulisan ini. Salah satu yang menjadi konsern kita adalah tentang kita akan memili...