Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara orang Sunda dan orang Jawa seperti terlihat tidak akur. Alasan klasiknya adalah karena perang Bubat. Entahlah. Walau para ahli sejarah sepertinya terus menggali tentang benar atau enggak telah terjadi perang bubat. Biarkan para ahli sejarah yang mencari itu. Tapi pendapat saya, ada beberapa point penting yang ingin saya sampaikan terkait perang bubat berdasar beberapa referensi:
- Ketika perang bubat terjadi, ada salah satu prajurit yang pura-pura mati. Kemudian mengabarkan gugurnya Linggabuana dan rombongan, ke kerajaan Sunda.
- Setelah perang bubat, katanya Maharaja Hayam Wuruk, ditemani Gajah Mada dan beberapa Pasukan moksa ke Majalaya, Kab. Bandung. Buktinya ada mahkota yg bercorak Jawa ditemukan di Majalaya. Dimana mahkota itu ada Burung Garuda dan Tongkat Komando. Di Sunda tidak ada jenis mahkota seperti itu. Ini sedang dikaji oleh para peneliti. Mitos masyarakat di Majalaya juga ada yang sebagian tahu kalau mahkota itu milik Hayamwuruk berdasarkan cerita turun temurun.
- Yg saya heran, kenapa rakyat Jawa sampai saat ini masih tidak percaya perang bubat terjadi. Logika saja, rakyat Jawa percaya kisah ken arok dan ken dedes yg sumbernya dari kitab Paparaton. Perang Bubat juga dibahas sekilas di kitab Paparaton. Kalau diibaratkan kitab Paparaton adalah buku, masa percaya satu bagian bab sementara bagian bab lainnya diingkari. Tidak masuk akal.
- Bagi saya pribadi, benar telah terjadi perang bubat. Buktinya ada pemberian gelar siliwangi. Tidak mungkin pemberian gelar itu asal-asalan dan pasti ada alasannya bagi kerajaan.
- Saat itu, Kerajaan Majapahit adalah kerajaan adidaya, pasti banyak yang iri dan ingin menjatuhkan. Mungkin saja, ada pihak-pihak oknum saat itu yg mensetting agar Majapahit hancur dengan fitnah, dengan merencanakan melakukan perang bubat dimana disetting fithan bahwa atas nama aktor pelakunya adalah Gajah Mada.
- Pada hakekatnya fitrah manusia adalah cinta kebaikan. Mungkin bagi Rakyat Jawa, Gajah Mada adalah pahlawan. Buktinya diabadikan menjadi nama Universistas Gajah Mada (UGM). Tapi bagi rakyat Sunda, Gajah Mada adalah negatif. Persis seperti rakyat Indonesia yg saat ini memandang Ahok. Sebagian besar rakyat Indonesia memandang Ahok pahlawan berdasarkan keberaniannya membenahi Jakarta. Tapi di sisi lain sebagian besar rakyat Indonesia juga memandang juga Ahok sebagai penista Agama berdasarkan fakta hukum. Maksud saya, analogi ahok bisa dipakai untuk Analogi tentang Gajah Mada. Kesimpulan saya: Bagi saya perang bubat benar terjadi. Hanya memang siapa yang harus disalahkan tentang siapa aktor yang menyebabkan terjadinya perang ini yang masih harus dicari kebenarannya. Kebenaran akan kisah perang bubat ini, akan membantu rekonsiliasi dua suku terbesar di Indonesia yaitu Jawa dan Sunda. Dua suku inilah yg diharapkan berkontribusi besar memajukan Indonesia sehingga jika kebenaran perang bubat ini belum ditemukan, akan ada rasa saling canggung di level bawah antara Jawa dan Sunda dalam sistem sosial sehingga sedikit sulit bekerja sama dengan maksimal dalam membangun Indonesia ke depan. Terakhir, dalam usaha mencari kebenaran hakiki tentang perang bubat (benar atau tidak terjadi, siapa aktor sebenarnya, dll), perlu sikap negarawan dari masing-masing ilmuwan, budayawan dari Jawa dan Sunda. Jangan ada ego, saling mengklaim sukunya masing-masing adalah superior, dll.
Intinya, orang Sunda dan orang Jawa harus bersatu. Karena konflik antara keduanya hanya menghasilkan kendala psikologis sehingga menciptakan hubungan kaku dan kikuk di level masyarakat (terutama masyarakat di akar rumput) apabila orang Sunda dan orang Jawa berinteraksi. Kedua orang dari suku ini seperti sudah tahu aturan-aturan ketika saling bergaul tanpa membicarakan secara gamblang aturannya. Ke depannya harus banyak orang Sunda dan orang Jawa yang saling menikah agar supaya hubungan kedua suku ini lebih lentur. Salam Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar