Sabtu, 09 Oktober 2021

Tips Suku Non Jawa Bisa Menjadi Presiden

Pemilu 2024 masih sekitar 2 tahun lebih sejak saya membuat tulisan ini. Salah satu yang menjadi konsern kita adalah tentang kita akan memilih presiden dan wakil presiden. Ini yang akan saya bahas. Sebelum ke pembahasan inti, saya ingin terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan pada tulisan ini, percayalan bahwa tulisan yang saya buat ini bukan bermaksud untuk memunculkan isu rasis atau apapun, tetapi semata-mata berdasarkan pemikiran logis dan untuk kebaikan bersama. Oke ya...??!!

Let's discuss to the point ya.. Indonesia secara resmi diproklamirkan sejak tanggal 17 Agustus 1945. Itu artinya sampai hari ini, indonesia sudah berusia 76 tahun. Waw bukan usia yang muda menurut saya, tetapi merupakan usia yang cukup matang. Lalu, selama usia 76 tahun ini apa yang sudah indonesia capai? Saya tidak ingin membahas ke yang lebih luas karena takut berbicara tidak sesuai dengan porsinya. Kebetulan saya seolah sarjana ekonomi, jadi yang ingin saya bahas adalah capaian apa di Indonesia secara ekonomi yang berhasil dalam usia 76 tahun ini? (Mikir dulu) Hmm... bingung jawabnya. Kenapa? karena secara ekonomi menurut saya capaiannya gitu gitu aja, tidak ada kemajuan signifikan. Ganti presiden ganti kebijakan, ekonomipun naik turun kondisinya. Selain itu apa lagi coba? misal, kapan negara kita akan menjadi negara maju? saya tidak tahu. Tapi dengan usia 76 tahun harusnya udah menjadi negara maju. Kenapa kita belum menjadi negara maju? saya jg tidak tahu. Coba bandingkan dengan negara asia timur lainnya seperti korea selatan, singapura, jepang. Mereka begitu cepat bertransformasi menjadi negara maju. (Ada yang jawab: halahhh,,, mereka kn negara kecil). Lalu ada China yang negaranya dari dulu disebut negara miskin dengan mengelola rakyat 1 miliar lebih, kenapa transformasinya begitu cepat? hayoo jawab buat yang beralibi karena negara kecil bisa maju wajar. Menurut saya, setiap negara memiliki tantangannya masing-masing. Dalam hal ini oke Indonesia negaranya besar, pulaunya luas, beragam agama, suku dll. Oke itu benar, tetapi saya yakin sebetulnya kita pasti punya cara mengatasi itu semua, tergantung siapa pemimpinnya. Ini yang akan saya kupas.


Sudah 76 tahun usia negara kita, Indonesia dan sudah menjadi rahasia umum bahwa presiden kita semua berasal dari suku Jawa. Kenapa saya perlu membahas soal presiden dari perspektif suku? Jawabannya adalah karena saya yakin bahwa presiden dari suku tertentu akan mempengaruhi kebijakan dalam mengelola rakyatnya. Oya, dalam pembahasan tulisan saya kali ini, sumber saya adalah dari berbagai berita, artikel, buku-buku, blog, dll dan tentunya pendapat pribadi, so...Kembali ke topik kita tentang hubungan Presiden dengan suku. Mari kita ungkapkan fakta bahwa selama usia 76 tahun ini, presiden Indonesia mayoritas dari suku Jawa. Lalu pertanyaannya adalah, apakah kita sudah menjadi negara maju selama dipimpin dari suku Jawa? Faktanya tidak. Menurut saya, kenapa kita tidak mencoba memiliki presiden dari suku lain selain Jawa, lalu kita bandingkan hasilnya, presiden dari suku mana yang paling efektif memimpin Indonesia? Menurut saya, seperti yang saya bilang identitas kesukan seorang presiden akan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil, sehingga ujung-ujungnya berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Saya melakukan survei pribadi terhadap komentar-komentar di media masa online atas artikel yang berkaitan dengan presiden dari suku jawa. Dan mayoritas teman-teman dari suku Jawa bilang, siapapun presidennya asal dari suku Jawa..., partai ga penting, yang penting presidennya dari suku Jawa. Dari komentar tersebut, sudah sangat jelas memang teman-teman dari suku Jawa punya soliditas tinggi akan mendukung orang Jawa dimanapun mereka berada. Oke itu sah-sah saja tapi coba bayangkan apabila ada dua calon presiden Indonesia. Misal calon nomor 1 berasal dari Jawa, dengan kemampuan memimpin biasa-biasa saja, track and recordnya juga biasa saja. Sedangkan calon nomor 2, berasal dari suku X dengan prestasi yang gemilang dalam memimpin rakyat dll. Saya yakin, dari komentar-komentari teman-teman dari suku Jawa tadi, apabila betul-betul mewakili nuansa bathin orang jawa mayoritas, calon nomor urut 2 akan kalah jadi presiden. Kesimpulannya berarti kita akan dipimpin oleh orang yang biasa-biasa saja, dan itu pasti akan berpengaruh ke kehidupan kita karena presiden itu mengelola rakyatnya.

Dengan hasil survei pribadi seperti yang saya sampaikan di atas, itu berarti berkualitas atau tidak presidennya asal dari suku Jawa itu menurutku logika yang akan menghambat kemajuan Indonesia itu sendiri. Kalau Indonesia tidak maju, berarti ekonomi juga tidak maju. Lama-lama Indonesia akan mengalami disintegrasi dan kembali seperti sebelum Indonesia berdiri, yaitu menjadi negara-negara bagian. Misal negara Sunda, negara Jawa, negara Aceh, dll. Disisi lain, kita juga mengambil pelajaran dari sejarah bahwa akibat konsep negara di nusatara model demikian, sangat mudah sekali diobak-abik oleh penjajah. Kesimpulannya kita memang perlu memiliki presiden yang menjadi simbol bahwa Indonesia bukan negara suku Jawa. Perlu ada presiden yang di luar Jawa yang menjadi simbol mensejahterakan rakyat Indonesia keseluruhan, bukan hanya mensejahterakan rakyat yang berasal dari suku dimana presiden tersebut terlahir. Tetapi tentu saja karena presiden Indonesia dipilih secara langsung, otomatis ditentukan oleh jumlah suara penduduk. Saat ini berdasarkan pantauan dari Wikipedia, jumlah penduduk suku Jawa sekitar 100 juta, paling tinggi seIndonesia. Artinya, apabila pemilihan secara langsung dilakukan, maka yang berpotensi menang adalah presiden dari suku Jawa, walapun secara kompetensi dan profesionalitas dalam memimpin negara biasa-biasa saja, sedangkan calon lain yang kemampuan dan profesionalitasnya dalam memimpin negara sangat mumpuni kemungkinan, kalah. Ini menurut saya sangat tidak sehat. Solusinya?

Ingat bahwa jumlah penduduk Indonesia diluar suku Jawa, yaitu ada suku Sunda, Melayu, dll. yang apabila digabungkan semua suku-suku ini (kecuali Jawa), total penduduknya lebih dari 130 juta. Ini adalah peluang bagi para calon di luar suku Jawa. Mengapa saya bilang peluang?. Karena kalau niatnya baik, tulus bahwa selama dipimpin oleh suku Jawa, faktanya Indonesia tidak mengalami kemajuan yang signifikan, maka calon presiden di luar suku Jawa dapat melakukan pendekatan-pendekatan psikologis terhadap tokoh-tokoh penting di luar suku Jawa. Saya yakin, semua mayoritas di luar suku Jawa juga ada hasrat atau keinginan terpendam bahwa wakil dari suku mereka harusnya ada yang coba jadi presiden dengan alasan-alasan yang tulus tentunya dan membawa Indonesia menjadi negara maju. Hasil survei pribadi kalau saya lihat, mayoritas teman-teman dari luar suku Jawa saya lihat tidak pernah memiliki preferensi memilih pemimpin berdasar suku. Ini suatu berita baik. 


Kesimpulan akhir, apabila ada orang suku Bugis misalnya atau papua ingin menjadi presiden, maka: 

1. Pastikan bahwa kalian (calon presiden) jangan minder duluan, kalah mental, takut kalah karena lawan calon presidennya dari orang Jawa, sedangkan orang Jawa jumlah penduduknya paling banyak sehingga tertanam dalam diri anda saya pasti kalah, padalah hati anda yakin anda lebih mampu memimpin dari calon presidend yang dari suku Jawa. 

2. Pesan saya, hilangkan midnset bahwa anda akan kalah dengan lawan capres dari Jawa. Tenang, walaupun jumlah penduduknya paling banyak (suku Jawa), tetapi Indonesia bukan terdiri dari suku Jawa saja. Ada Sunda yg jumlahnya 50jtan, minang, aceh, papua, bugis yang jika ditotal jumlahnya lebih dari 130 juta. Itu berarti ada berpeluang menang menjadi presiden karena secara jumlah penduduk suku Jawa sudah kalah telak apabila jumlah penduduk di luar suku Jawa digabungkan.

3. Sebagai calon presiden di luar suku Jawa, pastikan bahwa anda harus punya strategi untuk konsolidasi semua suku-suku di luar suku Jawa. Ajak tokoh masyarakat dari Sunda, minang, aceh, palembang, bajar, bugis, papua, maluku, dll. Yang ujung-ujungnya adalah bahwa semua penduduk di luar suku Jawa akan memilih anda. Cari persamaan persepsi kenapa anda harus menjadi presiden. Yakinkan rakyat dari suku-suku di luar suku Jawa bahwa saatnya anda memimpin. Misal persamaan persepsi bahwa selama Indonesia dipimpin oleh suku Jawa tidak berhasil keluar dari cap negara berkembang, susah majunya, ada persamaan keinginan presiden di luar suku Jawa, dll.

4. Pastikan bahwa niat anda tulus untuk menjadi presiden setelah berhasil menjadi presiden di luar suku Jawa yaitu untuk membahwa Indonesia lebih baik. 


Demikian artikel ini, semata-mata hanya untuk menuangkan pemikiran yang gundah-gulana dengan keadaan negara Indonesia yang gitu-gitu saja. Trim..    



        

Tips Suku Non Jawa Bisa Menjadi Presiden

Pemilu 2024 masih sekitar 2 tahun lebih sejak saya membuat tulisan ini. Salah satu yang menjadi konsern kita adalah tentang kita akan memili...