Sabtu, 09 Oktober 2021

Tips Suku Non Jawa Bisa Menjadi Presiden

Pemilu 2024 masih sekitar 2 tahun lebih sejak saya membuat tulisan ini. Salah satu yang menjadi konsern kita adalah tentang kita akan memilih presiden dan wakil presiden. Ini yang akan saya bahas. Sebelum ke pembahasan inti, saya ingin terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan pada tulisan ini, percayalan bahwa tulisan yang saya buat ini bukan bermaksud untuk memunculkan isu rasis atau apapun, tetapi semata-mata berdasarkan pemikiran logis dan untuk kebaikan bersama. Oke ya...??!!

Let's discuss to the point ya.. Indonesia secara resmi diproklamirkan sejak tanggal 17 Agustus 1945. Itu artinya sampai hari ini, indonesia sudah berusia 76 tahun. Waw bukan usia yang muda menurut saya, tetapi merupakan usia yang cukup matang. Lalu, selama usia 76 tahun ini apa yang sudah indonesia capai? Saya tidak ingin membahas ke yang lebih luas karena takut berbicara tidak sesuai dengan porsinya. Kebetulan saya seolah sarjana ekonomi, jadi yang ingin saya bahas adalah capaian apa di Indonesia secara ekonomi yang berhasil dalam usia 76 tahun ini? (Mikir dulu) Hmm... bingung jawabnya. Kenapa? karena secara ekonomi menurut saya capaiannya gitu gitu aja, tidak ada kemajuan signifikan. Ganti presiden ganti kebijakan, ekonomipun naik turun kondisinya. Selain itu apa lagi coba? misal, kapan negara kita akan menjadi negara maju? saya tidak tahu. Tapi dengan usia 76 tahun harusnya udah menjadi negara maju. Kenapa kita belum menjadi negara maju? saya jg tidak tahu. Coba bandingkan dengan negara asia timur lainnya seperti korea selatan, singapura, jepang. Mereka begitu cepat bertransformasi menjadi negara maju. (Ada yang jawab: halahhh,,, mereka kn negara kecil). Lalu ada China yang negaranya dari dulu disebut negara miskin dengan mengelola rakyat 1 miliar lebih, kenapa transformasinya begitu cepat? hayoo jawab buat yang beralibi karena negara kecil bisa maju wajar. Menurut saya, setiap negara memiliki tantangannya masing-masing. Dalam hal ini oke Indonesia negaranya besar, pulaunya luas, beragam agama, suku dll. Oke itu benar, tetapi saya yakin sebetulnya kita pasti punya cara mengatasi itu semua, tergantung siapa pemimpinnya. Ini yang akan saya kupas.


Sudah 76 tahun usia negara kita, Indonesia dan sudah menjadi rahasia umum bahwa presiden kita semua berasal dari suku Jawa. Kenapa saya perlu membahas soal presiden dari perspektif suku? Jawabannya adalah karena saya yakin bahwa presiden dari suku tertentu akan mempengaruhi kebijakan dalam mengelola rakyatnya. Oya, dalam pembahasan tulisan saya kali ini, sumber saya adalah dari berbagai berita, artikel, buku-buku, blog, dll dan tentunya pendapat pribadi, so...Kembali ke topik kita tentang hubungan Presiden dengan suku. Mari kita ungkapkan fakta bahwa selama usia 76 tahun ini, presiden Indonesia mayoritas dari suku Jawa. Lalu pertanyaannya adalah, apakah kita sudah menjadi negara maju selama dipimpin dari suku Jawa? Faktanya tidak. Menurut saya, kenapa kita tidak mencoba memiliki presiden dari suku lain selain Jawa, lalu kita bandingkan hasilnya, presiden dari suku mana yang paling efektif memimpin Indonesia? Menurut saya, seperti yang saya bilang identitas kesukan seorang presiden akan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil, sehingga ujung-ujungnya berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Saya melakukan survei pribadi terhadap komentar-komentar di media masa online atas artikel yang berkaitan dengan presiden dari suku jawa. Dan mayoritas teman-teman dari suku Jawa bilang, siapapun presidennya asal dari suku Jawa..., partai ga penting, yang penting presidennya dari suku Jawa. Dari komentar tersebut, sudah sangat jelas memang teman-teman dari suku Jawa punya soliditas tinggi akan mendukung orang Jawa dimanapun mereka berada. Oke itu sah-sah saja tapi coba bayangkan apabila ada dua calon presiden Indonesia. Misal calon nomor 1 berasal dari Jawa, dengan kemampuan memimpin biasa-biasa saja, track and recordnya juga biasa saja. Sedangkan calon nomor 2, berasal dari suku X dengan prestasi yang gemilang dalam memimpin rakyat dll. Saya yakin, dari komentar-komentari teman-teman dari suku Jawa tadi, apabila betul-betul mewakili nuansa bathin orang jawa mayoritas, calon nomor urut 2 akan kalah jadi presiden. Kesimpulannya berarti kita akan dipimpin oleh orang yang biasa-biasa saja, dan itu pasti akan berpengaruh ke kehidupan kita karena presiden itu mengelola rakyatnya.

Dengan hasil survei pribadi seperti yang saya sampaikan di atas, itu berarti berkualitas atau tidak presidennya asal dari suku Jawa itu menurutku logika yang akan menghambat kemajuan Indonesia itu sendiri. Kalau Indonesia tidak maju, berarti ekonomi juga tidak maju. Lama-lama Indonesia akan mengalami disintegrasi dan kembali seperti sebelum Indonesia berdiri, yaitu menjadi negara-negara bagian. Misal negara Sunda, negara Jawa, negara Aceh, dll. Disisi lain, kita juga mengambil pelajaran dari sejarah bahwa akibat konsep negara di nusatara model demikian, sangat mudah sekali diobak-abik oleh penjajah. Kesimpulannya kita memang perlu memiliki presiden yang menjadi simbol bahwa Indonesia bukan negara suku Jawa. Perlu ada presiden yang di luar Jawa yang menjadi simbol mensejahterakan rakyat Indonesia keseluruhan, bukan hanya mensejahterakan rakyat yang berasal dari suku dimana presiden tersebut terlahir. Tetapi tentu saja karena presiden Indonesia dipilih secara langsung, otomatis ditentukan oleh jumlah suara penduduk. Saat ini berdasarkan pantauan dari Wikipedia, jumlah penduduk suku Jawa sekitar 100 juta, paling tinggi seIndonesia. Artinya, apabila pemilihan secara langsung dilakukan, maka yang berpotensi menang adalah presiden dari suku Jawa, walapun secara kompetensi dan profesionalitas dalam memimpin negara biasa-biasa saja, sedangkan calon lain yang kemampuan dan profesionalitasnya dalam memimpin negara sangat mumpuni kemungkinan, kalah. Ini menurut saya sangat tidak sehat. Solusinya?

Ingat bahwa jumlah penduduk Indonesia diluar suku Jawa, yaitu ada suku Sunda, Melayu, dll. yang apabila digabungkan semua suku-suku ini (kecuali Jawa), total penduduknya lebih dari 130 juta. Ini adalah peluang bagi para calon di luar suku Jawa. Mengapa saya bilang peluang?. Karena kalau niatnya baik, tulus bahwa selama dipimpin oleh suku Jawa, faktanya Indonesia tidak mengalami kemajuan yang signifikan, maka calon presiden di luar suku Jawa dapat melakukan pendekatan-pendekatan psikologis terhadap tokoh-tokoh penting di luar suku Jawa. Saya yakin, semua mayoritas di luar suku Jawa juga ada hasrat atau keinginan terpendam bahwa wakil dari suku mereka harusnya ada yang coba jadi presiden dengan alasan-alasan yang tulus tentunya dan membawa Indonesia menjadi negara maju. Hasil survei pribadi kalau saya lihat, mayoritas teman-teman dari luar suku Jawa saya lihat tidak pernah memiliki preferensi memilih pemimpin berdasar suku. Ini suatu berita baik. 


Kesimpulan akhir, apabila ada orang suku Bugis misalnya atau papua ingin menjadi presiden, maka: 

1. Pastikan bahwa kalian (calon presiden) jangan minder duluan, kalah mental, takut kalah karena lawan calon presidennya dari orang Jawa, sedangkan orang Jawa jumlah penduduknya paling banyak sehingga tertanam dalam diri anda saya pasti kalah, padalah hati anda yakin anda lebih mampu memimpin dari calon presidend yang dari suku Jawa. 

2. Pesan saya, hilangkan midnset bahwa anda akan kalah dengan lawan capres dari Jawa. Tenang, walaupun jumlah penduduknya paling banyak (suku Jawa), tetapi Indonesia bukan terdiri dari suku Jawa saja. Ada Sunda yg jumlahnya 50jtan, minang, aceh, papua, bugis yang jika ditotal jumlahnya lebih dari 130 juta. Itu berarti ada berpeluang menang menjadi presiden karena secara jumlah penduduk suku Jawa sudah kalah telak apabila jumlah penduduk di luar suku Jawa digabungkan.

3. Sebagai calon presiden di luar suku Jawa, pastikan bahwa anda harus punya strategi untuk konsolidasi semua suku-suku di luar suku Jawa. Ajak tokoh masyarakat dari Sunda, minang, aceh, palembang, bajar, bugis, papua, maluku, dll. Yang ujung-ujungnya adalah bahwa semua penduduk di luar suku Jawa akan memilih anda. Cari persamaan persepsi kenapa anda harus menjadi presiden. Yakinkan rakyat dari suku-suku di luar suku Jawa bahwa saatnya anda memimpin. Misal persamaan persepsi bahwa selama Indonesia dipimpin oleh suku Jawa tidak berhasil keluar dari cap negara berkembang, susah majunya, ada persamaan keinginan presiden di luar suku Jawa, dll.

4. Pastikan bahwa niat anda tulus untuk menjadi presiden setelah berhasil menjadi presiden di luar suku Jawa yaitu untuk membahwa Indonesia lebih baik. 


Demikian artikel ini, semata-mata hanya untuk menuangkan pemikiran yang gundah-gulana dengan keadaan negara Indonesia yang gitu-gitu saja. Trim..    



        

Selasa, 14 Januari 2020

Hidup Seimbang

Mencapai hidup yang seimbang adalah sesuatu yang sangat penting. Tentu saja, mencapai hidup seimbang bukan perkara mudah. Tetapi yang perlu ditekankan disini adalah kalau hidup kita tidak seimbang pasti akan mengalami gangguan di salah satu sisi pada hidup kita. Bagi saya, orang yang hidup seimbang adalah orang yang mampu membagi waktu yang hanya 24 jam dalam sehari, yang hanya 30 hari dalam 1 bulan, yang hanya 365 hari dalam 1 tahun dalam hidupnya ini, untuk beraktivitas untuk meningkatkan kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan intelektual (IQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Langsung saja ya, berikut tips hidup yang seimbang lebih lengkapnya dari saya:

Pertama, meningkatkan kecerdasan emosi. Dari namanya saja sudah jelas, yaitu emosi. Emosi adalah suatu perasaan senang, sedih, gembira, marah dan jenis emosi lainnya. Ada salah kaprah pengertian di masayarakat Indonesia bahwa emosi adalah marah. Padalah emosi adalah soal suasana hati, dimana suasananya bisa marah, sedih, senang, dll. Jadi orang yang memiliki kecerdasar emosi adalah orang yang tahu kapan harus marah, sedih, senang, dll. Jadi kalau ada anak yang meminta dibelikan motor kepada orang tuanya saat orang tua sakit berarti anak itu tidak memiliki kecerdasan emosi dikarenakan dalam suasana orang tua sedang sakit harusnya anak tersebut dalam suasana emosi sedih dan ikut prihatin, bukan malah gembira dan minta dibelikan motor. 

Pertanyaannya, bagaimana cara untuk meningkatkan kecerdasan emosi? Jawabannya: kecerdasan emosi hanya bisa diasah dengan cara lebih rajin interaksi atau bersosial. Kenapa bisa begitu? Ya.. karena ketika berinteraksi atau bersosial, emosi kita akan dilatih untuk memahami suasana emosi atau perasaan orang lain atau yang menjadi lawan interaksi kita. Disitu akan menjadi suatu kebiasaan. Manfaat lainnya, dengan bersosial, kita akan tahu aturan-aturan umum dalam bermasyarakat.

Sebelum melakukannya, interaksi atau bersosial itu ada macam-macam. Yaitu bersosial satu orang dengan satu orang artinya kita hanya ngobrol dan berinteraksi dengan 1 orang. Ada juga interaksi satu orang dengan 2 orang, 3 orang, dst, itu artinya kita sedang bergaul dengan kelompok orang, ngobrol dengan beberapa teman, dll. Ada juga interaksi satu orang dengan banyak orang. Contoh jenis bergaul yang ini yaitu misal ikut organisasi, dll.

Kedua, meningkatkan kecerdasan intelektual. Meningkatkan kecerdasan intelektual berarti melakukan aktivitas yang dapat mengasah otak. Meningkatkan kecerdasan intelektual dapat diibaratkan kita mengasah pisau. Untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, hanya dapat dilakukan dengan 1 cara yaitu dengan cara menambah ilmu pengetahuan. Cara menambah ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan berbagai cara, misal mendengar pengalaman orang dimana dari pengalaman orang itu kita dapat belajar dan memperoleh ilmu, membaca buku (pada hakekatnya buku juga merupakan sang penulis buku seperti sedang berbicara dengan pembaca), merenung di WC dapat ilmu, dll. Itulah kenapa ada pepatah yang bilang kalau ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja. Tapi tentu ilmu pengetahuan dari buku lebih dapat diandalkan karena pengetahuan yang ada di buku diperoleh dari hasil penelitian, pengujian, dll.  

Ketiga, meningkatkan kecerdasan spiritual. Dari namanya saja sudah jelas yaitu Spiritual Quotient (SQ) atau kecerdasan spirit. Spirit berarti kekuatan. Untuk meningkatkan kecerdasarn spiritual, lakukanlah aktivitas yang dapat meningkatkan spirit atau kekuatan disaat kita terpuruk, lakukan aktivitas yang dapat meningkatkan motivasi saat sedih dan bisa bangkit. Contohnya rajin ibadah shalat. Kenapa shalat dapat meningkatkan kecerdasan spirit? Karena ketika kita shalat, baik shalat wajib, shalat tahajud misalnya kita bisa berdo'a dan seperti punya harapan baru sehingga membangkitkan spriti. Begitu pula bagi umat nasrani, kecerdasan spirit dapat meniingkat dengan pergi ke gereja. Tentu saja, meningkatkan kecerdasan spirit tidak hanya bisa dilakukan dengan cara proses agama saja, tetapi maknanya luas, misal mendengarkan orasi motivator, mendengarkan ceramah dll yang intinya adalah dapat meningkatkan spirit kita.

Dari penjelasan 3 point di atas, kalau kita hanya fokus di salah satu saja maka akan terjadi ketidak seimbangan hidup. Misal: waktu yang kita punya hanya digunakan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ), maka kita akan jadi orang kuper. Kalau kita hanya fokus meningkatkan kecerdasan emosi (EQ), maka kita akan menjadi orang yang gaul, tapi tidak cerdas karena tidak pernah meningkatkan IQ. Mungkin bagi anak kampus, kalau terlalu banyak bergaul nilai kuliah jadi jeblok. Kalau kita terlalu fokus kepada meningkatkan kecerdasan spirit, contoh kasusnya mungkin ada yang bunuh diri karena putus asa dengna hidupnya,  jadi teroris karena hanya fokus ke melakukan aktivitas spiritual ibadah rutin padahal ibadah bervariasi (misal shalat, mencari nafkah, menuntut ilmu, bersosial juga adalah ibadah. Saya menyebut variasi ibadah ini sebagai diversifikasi ibadah. Itulah kenapa nabi mengatakan bahwa semua dalam hidup kita kalau untuk kebaikan adalah ibadah), dll.

Itulah sedikit tips dari saya agar hidup seimbang. Semoga bermanfaat ya...

Orang Sunda dan Orang Jawa Ayo Bersatu..

Sudah menjadi rahasia umum bahwa antara orang Sunda dan orang Jawa seperti terlihat tidak akur. Alasan klasiknya adalah karena perang Bubat. Entahlah. Walau para ahli sejarah sepertinya terus menggali tentang benar atau enggak telah terjadi perang bubat. Biarkan para ahli sejarah yang mencari itu. Tapi pendapat saya, ada beberapa point penting yang ingin saya sampaikan terkait perang bubat berdasar beberapa referensi:

  1. Ketika perang bubat terjadi, ada salah satu prajurit yang pura-pura mati. Kemudian mengabarkan gugurnya Linggabuana dan rombongan, ke kerajaan Sunda.
  2. Setelah perang bubat, katanya Maharaja Hayam Wuruk, ditemani Gajah Mada dan beberapa Pasukan moksa ke Majalaya, Kab. Bandung. Buktinya ada mahkota yg bercorak Jawa ditemukan di Majalaya. Dimana mahkota itu ada Burung Garuda dan Tongkat Komando. Di Sunda tidak ada jenis mahkota seperti itu. Ini sedang dikaji oleh para peneliti. Mitos masyarakat di Majalaya juga ada yang sebagian tahu kalau mahkota itu milik Hayamwuruk berdasarkan cerita turun temurun.
  3. Yg saya heran, kenapa rakyat Jawa sampai saat ini masih tidak percaya perang bubat terjadi. Logika saja, rakyat Jawa percaya kisah ken arok dan ken dedes yg sumbernya dari kitab Paparaton. Perang Bubat juga dibahas sekilas di kitab Paparaton. Kalau diibaratkan kitab Paparaton adalah buku, masa percaya satu bagian bab sementara bagian bab lainnya diingkari. Tidak masuk akal.
  4. Bagi saya pribadi, benar telah terjadi perang bubat. Buktinya ada pemberian gelar siliwangi. Tidak mungkin pemberian gelar itu asal-asalan dan pasti ada alasannya bagi kerajaan. 
  5. Saat itu, Kerajaan Majapahit adalah kerajaan adidaya, pasti banyak yang iri dan ingin menjatuhkan. Mungkin saja, ada pihak-pihak oknum saat itu yg mensetting agar Majapahit hancur dengan fitnah, dengan merencanakan melakukan perang bubat dimana disetting fithan bahwa atas nama aktor pelakunya adalah Gajah Mada. 
  6. Pada hakekatnya fitrah manusia adalah cinta kebaikan. Mungkin bagi Rakyat Jawa, Gajah Mada adalah pahlawan. Buktinya diabadikan menjadi nama Universistas Gajah Mada (UGM). Tapi bagi rakyat Sunda, Gajah Mada adalah negatif. Persis seperti rakyat Indonesia yg saat ini memandang Ahok. Sebagian besar rakyat Indonesia memandang Ahok pahlawan berdasarkan keberaniannya membenahi Jakarta. Tapi di sisi lain sebagian besar rakyat Indonesia juga memandang juga Ahok sebagai penista Agama berdasarkan fakta hukum. Maksud saya, analogi ahok bisa dipakai untuk Analogi tentang Gajah Mada. Kesimpulan saya: Bagi saya perang bubat benar terjadi. Hanya memang siapa yang harus disalahkan tentang siapa aktor yang menyebabkan terjadinya perang ini yang masih harus dicari kebenarannya. Kebenaran akan kisah perang bubat ini, akan membantu rekonsiliasi dua suku terbesar di Indonesia yaitu Jawa dan Sunda. Dua suku inilah yg diharapkan berkontribusi besar memajukan Indonesia sehingga jika kebenaran perang bubat ini belum ditemukan, akan ada rasa saling canggung di level bawah antara Jawa dan Sunda dalam sistem sosial sehingga sedikit sulit bekerja sama dengan maksimal dalam membangun Indonesia ke depan. Terakhir, dalam usaha mencari kebenaran hakiki tentang perang bubat (benar atau tidak terjadi, siapa aktor sebenarnya, dll), perlu sikap negarawan dari masing-masing ilmuwan, budayawan dari Jawa dan Sunda. Jangan ada ego, saling mengklaim sukunya masing-masing adalah superior, dll.

 Entahlah .. hanya Allah yang tahu akan kebenarannya. Daripada membicarakan perang bubat yang tidak ada habisnya, yang jelas faktanya jika kedua suku ini yaitu Jawa dan Sunda bersatu terbukti mampu menjadi kekuatan besar. Buktinya saat rakyat Jawa mengusir berkali-kali penjajah Belanda, mereka tidak berhasil. Begitu juga dengan masyarakat Sunda mengusir Belanda sulit sekali. Tapi setelah Soekarno sekolah di ITB saat itu yang terletak di tanah Sunda, tepatnya di Bandung, bagaimanapun pasti sistem sunda berpengaruh terhadap sistem pemikiran bung Karno, dan akhirnya berhasil membawa Indonesia merdeka. 

Intinya, orang Sunda dan orang Jawa harus bersatu. Karena konflik antara keduanya hanya menghasilkan kendala psikologis sehingga menciptakan hubungan kaku dan kikuk di level masyarakat (terutama masyarakat di akar rumput) apabila orang Sunda dan orang Jawa berinteraksi. Kedua orang dari suku ini seperti sudah tahu aturan-aturan ketika saling bergaul tanpa membicarakan secara gamblang aturannya. Ke depannya harus banyak orang Sunda dan orang Jawa yang saling menikah agar supaya hubungan kedua suku ini lebih lentur. Salam Indonesia

Orang Sunda dan Pemahamannya Terhadap Politik

Hallo semua,
Alhamdulillah malam ini saya dapat menyempatkan kembali menulis di blog saya ditengah-tengah kesibukan saya bekerja. Kali ini artikel yang akan saya tulis adalah tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Sudah lama sekali saya ingin menulis artikel dengan judul ini. Saat menyetir motor, saat di kamar mandi, saat di tempat tidur, di tempat kerja selalu kepikiran ingin mengeluarkan ide pikiran tentang pendapat saya terhadap orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Akhirnya kesampaian juga. Sesuatu yang harus saya syukuri.

Kenapa saya ingin sekali menulis tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik? karena saya merasa resah melihat kondisi di tanah Jawa Barat , terutama di kota-kota besarnya, rata-rata semua fasilitas umum seperti jalan raya yang semrawut, trotoar dipakai untuk pedagang, penggundulan hutan, banjir, fasilitas pendidikan yang amburadul, kotor dan sampah tidak dibuang pada tempatnya dan masalah umum lainnya. Singkat cerita, karena kepedulian saya pribadi, saya kemudian merenung dan menyimpulkan bahwa orang sunda cenderung rata-rata individualis, sulit diajak bekerjasama dan jarang mau terlibat terhadap kegiatan-kegiatan untuk kepentingan umum, ceuk bahasa sunda namah hare-hare. Dengan sikap kehare-harean inilah membuat orang sunda menjadi tidak peduli terhadap kepentingan umum sehingga masalah-masalah umum terjadi. Walaupun saya juga mengerti bahwa sikap kehare-harean orang sunda salah satunya karena faktor geografis yang mana orang sunda rata-rata hidup di daerah pegunungan sehingga cenderung lebih suka jarang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain sehingga jarang berkoordinasi dalam sistem kehidupan sosial dan membentuk rata-rata menjadi karakter individualis.Tentu ini adalah tantangan orang sunda. Kita lanjut ya...

Kesimpulan saya tentang orang sunda kemudian diperkuat ketika saya berlibur ke Yogyakarta dan ke Surabaya 1 bulan yang lalu saat sekalian honey moon pernikahan saya dengan istri saya. Betapa kagetnya saya, melihat rata-rata jalanan di kota Yogyakarta, Surabaya, rapih, hampir tidak ada trotoar yang dipakai untuk berdagang, orang-orangnya rata-rata tertib, jalanan tidak terlalu macet, jalanan ke pelosok desa saat menuju candi borobudur dan prambananpun rapih dan saya sangat menikmatinya. Dari sini saya kemudian berfikir apa yang menyebabkan perbedaan antara di tanah Sunda dan di tanah Jawa terjadi. Ditanahnya orang-orang Jawa kok serapih ini, tertib, fasilitas umumnya memiliki fasilitas yang cukup baik. Singkat cerita pula akhirnya saya juga merenung dan berkesimpulan yang kedua, bahwa orang-orang Jawa sangat mencintai fasilitas umum, patuh terhadap pemerintah, mau terlibat terhadap mengurus fasilitas-fasilitas umum. Kesimpulan ketiga, akhirnya saya tahu kenapa banyak pemimpin negara rata-rata berasal dari suku Jawa, alasannya adalah karena dalam hal-hal mengurus fasilitas umum, mereka sangat baik, sehingga pantas diamanahi dan dianugerai oleh Allah SWT menjadi pemimpin negara dan presiden. Sebuah jabatan yang bertugas mengurus fasilitas rakyat. Bukan karena masalah suku Jawa adalah suku mayoritas sehingga mudah menjadi presiden, tapi fakta menunjukan mereka lebih baik dalam mengurus fasilitas umum.

Oke jadi.. sudah ketemulah masalah utamanya bahwa orang sunda rata-rata individualis, dan kurang peduli terhadap kepentingan umum. Lalu apa hubungannya dengan yang akan saya tulis tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik? Ya.. tentu ada hubungannya. Perlu saya kasih tahu bahwa politik dapat dimaknai sebagai tentang kepentingan umum (versi saya). Orang yang peduli terhadap kepentingan umum adalah pasti orang politik. Kenapa bisa begitu? Begini ya... pada hakekatnya politik itu menurut saya sudah muncul sejak nabi Adam dan siti Hawa (Istirinya) turun ke bumi. Ketika bumi hanya diisi oleh nabi Adam dan siti Hawa, tidak ada konsep, budaya kepentingan umum atau politik muncul. Kenapa demikian? jawabannya karena penghuni manusia hanya ada 2 orang di bumi ini pada saat itu, yaitu mereka berdua saja. Sehingga tidak perlu ada kepentingan umum yang perlu diatur. Namun bayangkan ketika nabi Adam dan siti Hawa mulai memiliki keturunan, manusia semakin banyak, orang semakin berebut sumber daya yang sifatnya terbatas yang dapat disediakan di bumi ini. Akan banyak hal-hal yang harus diatur, seperti pembagian makanan, bagaimana bercocok tanam, bagaimana mengatur sumber air, dan mengatur fasilitas-fasilitas umum lainnya. Bayangkan kalau fasilitas air, bagaimana kalau sistem cocok tanam tidak diatur oleh keturunan nabi Adam yang jumlahnya semakin banyak. Akan ada banyak kekacauan yang terjadi. Jadi... itulah hakekatnya politik. Politik adalah tentang kepentingan umum. 

Kembali ke soal orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Dari dulu orang sunda sudah ditanamkan tidak terjun ke dunia politik, karena politik itu kotor. Ini adalah pernyataan yang sangat berbahaya. Efeknya akan membentuk karakter orang sunda yang cenderung individualis dan tidak peduli kepentinga umum. Bahkan karena tidak mau terjun ke dunia politik, suatu saat identitas orang sunda dan suku sunda akan hilang karena tidak ada orang sunda yang peduli terhadap masyarakat sundanya sendiri. Pemahaman orang sunda selama ini tentang politik yang hanya sebatas politik itu merebut kekuasaan secara curang, gabung menjadi anggota partai, terlibat jadi ketua ormas, adalah pemahaman yang sempit. Saya perlu tekankan bahwa makna politik itu luas, tetapi intinya politik adalah soal kepentingan umum. Jadi, kalau orang terlibat dalam sistem kepentingan umum berarti dia adalah orang politik. Ikut berpartisipasi mencoblok ke TPS, merawat fasilitas WC umum, tidak berdagang di trotoar, menerapkan budaya antri, ikut mendaftar menjadi calon bupati, presiden adalah bentuk dari politik. Sekali lagi fahami bahwa politik adalah soal kepentingan umum. Lebih luas lagi, politik yang bermakna sebagai segala sesuatu tentang kepentingan umum, tidak hanya soal keterlibatannya di partai politik, mendaftar menjadi calon pemimpin negara, tetapi politik juga ada di lingkungan keluarga. Contohnya suami dan istri saling bekerja sama, dimana istri memasak, suami menyetrika, berarti suami istri ini sedang berpolitik, yaitu mengatur kepentingan umum bagi anggota keluarganya. Bayangkan kalau tidak ada kerjasama antara suami dan istri untuk berbagi tugas menyetrika dan memasak. Politik juga terjadi di dunia bisnis. Pemimpin perusahaan mengurus mensejakterakan karyawan adalah berarti pemipin perusahaan tersebut sedang berpolitik atau mengatur kepentingan umum bagi seluruh karyawannya. Jadi sekali lagi politik itu tentang kepentingan umum yang maknanya luas... Itulah kenapa aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon yang artinya manusia adalah hewan yang bermasyarakat. Kita semua bermasyarakat dan ujung-ujungnya tentu adalah mengatur kepentingan umum ketika bermasyarakat.

Saya berharap dari semua yang saya jelaskan di atas, orang sunda semuanya mulai merubah persepsi tentang politik. Ingat politik itu penting, karena politik adalah soal kepentingan umum. Dari tulisan saya di atas dapat pula disimpulkan apa yang akan terjadi kalau seandainya orang sunda tidak peduli terhadap politik. Ingat makna politik itu luas, karena politik adalah soal kepedulian terhadap kepentingan umum. Politik (sebagai kepentingan umum) dapat terjadi di keluarga dimana suami, istri, anak semuanya berpolitik, di perusahaan juga berpolitik, apalagi di dunia pemerintahan juga berpolitik.

Saya adalah orang sunda dan peduli dengan tanah kelahiran saya ini. Mudah-mudahan tulis saya di atas yang dibuat dengan hati yang tulus dapat bermanfaat bagi orang sunda khususnya, dan bagi semua yang membaca artikel saya ini pada umumnya. Terima kasih

Minggu, 15 September 2019

Masukan Solusi Masalah Transportasi dan Kemacetan Indonesia

Hallo saudara semua..! kembali lagi dengan saya. Kali ini saya ingin iseng-iseng membuat tulisan, tapi bukan sekedar iseng biasa tapi iseng-iseng yang menurut saya bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kebetulan baru sekarang ada waktu lagi untuk menuangkan tulisan. Oke langsung saja dimulai ya. Beberapa minggu terakhir saya dikejutkan dengan berita pak presiden kita di Sidang Tahunan MPR bahwa beliau ingin memindahkan ibukota dari Jakarta. Ya.. saya sebagai rakyat yang baik tentu mengikuti keputusan pemerintah dan pasti pemerintah memiliki berbagai pertimbangan sebelum memutuskan pindah ibu kota. Tapi, izinkan saya memberikan masukan sebagai rakyat mudah-mudahan masukan saya bisa dilirik oleh stakeholder yang berkepentingan dengan pemindahan ibu kota atau berkaitan dengan kota.

Saya kebetulan minggu kemarin menyempatkan waktu untuk berfikir mengapa ibu kota harus pindah. Pikiran saya sederhana sekali dan menurut saya salah satu alasan pemindahan ibu kota adalah karena masalah transportasi. Bagi saya masalah transportasi ini seperti bencana. Hampir di tiap kota, masalah transportasi ini hampir dipastikan menjadi masalah pelik. Tiap kepala daerah sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kemacetan tetapi sering hasilnya tidak maksimal. Terutama Jakarta yang menjadi alasan mengapa harus pindah ibu kota. Oleh karena itu, karena masalah transportasi ini sudah merata di semua daerah maka masalah transportasi di Indonesia harus diselesaikan oleh level pemerintah pusat yang lebih kuat dari Kementerian Perhubungan. Saya memang bukan ahli transportasi tetapi mudah-mudahan hasil pemikiran ini bisa berguna. Menurut saya, berdasarkan pengalaman pribadi, masalah utama transportasi yaitu terlalu banyaknya penggunaan kendaraan pribadi sehingga kalau kita pergi ke jalan raya maka kita akan melihat benang kusut. Tentu ini mengakibatkan kota terlihat tidak indah, panas, gerah yang berefek domino lainnya terutama polusi udara.

Saya secara pribadi belum merasakan kebijakan-kebijakan yang nendang atau spektakuler dari pemerintah untuk mengatasi masalah transportasi ini. Contohnya kebijakan pengadaan subsidi bus-bus baru dari kementerian perhubungan, pengetatan penerbitan SIM, pengenaan pajak kendaraan yang tinggi, tetap saja hasilnya belum maksimal. Oleh karena itu, bagi saya, itu menandakan kebijakan pemerintah belum menyentuh kebijakan yang paling mendasar (mendalam) dan berarti kebijakan-kebijakan tersebut adalah kebijakan di level permukaan.

Menurut saya, solusi terbaik dari masalah transportasi dan kemacetan adalah adanya Undang-undang Manajemen Transportasi yang isinya adalah aturan klasifikasi yang jelas siapa yang boleh naik kendaraan pribadi, siapa yang harus naik kendaraan umum, siapa yang harus jalan kaki, dll. Menurut saya UU tersebut harus berisi ketentuan bahwa aturan penggunaan kendaraan yaitu  harus berdasarkan ukuran dimensi barang yang dibawa selain anggota tubuh saat bertransportasi. Jadi, aturannya adalah semakin besar dimensi barang yang diperlukan maka semakin boleh menggunakan kendaraan. Tetapi kalau kebutuhan barang dan jasanya masih rendah dan masih bisa dibawa dengan menggunakan tas, warganya diharuskan menggunakan kendaraan umum dan jalan kaki. Jadi dalam kasus Jakarta atau Jabodetabek adalah ada aturan yang jelas sampai serinci ini dalam bidang manajemen transportasi.

Dalam hal pengawasan untuk implementasi UU Manajemen Transporasi ini, maka perkuat kepolisian dengan menambah personel yang bertugas untuk memastikan apakah tiap individu, kelompok telah menggunakan transportasi dan jalan sesuai ketentuan.

Undang-undang ini diperlukan karena selama ini di Indonesia belum ada kebijakan sampai serinci itu dimana mengatur siapa yang boleh berkendara pribadi, siapa yang harus jalan kaki, dll. Selama ini, di negara kita baru berani menghimbau, mengkampanyekan penggunaan kendaraan umum. Saya yakin, dengan adanya UU tersebut, jalanan menjadi rapih, sejuk dan nyaman. Undang-undang ini juga perlu diterbitkan karena bagi saya mengapa masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi bukan semata-mata untuk mempermudah mobilitas tapi di Indonesia ini khususnya, sudah menjadi ajang pamer gengsi dan kekayaan kepada tetangga, teman, kerabat. Rasanya kalau ada reuni dan tidak bawa kendaraan pribadi pasti ada rasa minder sehingga apapun caranya harus punya kendaraan pribadi supaya tidak dipandang tidak sukses oleh teman lainnya, tidak peduli pajak naik, SIM mahal, dll. Itu adalah salah satu contohnya. Dengan hadirnya undang-undang manajemen transportasi ini seperti sebuah perwujudan keadilan berkendaran, sama rasa sama rata. Dengan adanya undang-undang ini, orang yang tidak punya kendaraan tidak perlu minder lagi bersosial karena ada orang lain yang juga tidak menggunakan kendaraan pribadi. Dengan adanya undang-undang in, orang seperti dipaksa dengan aturan yang jelas kapan masyarakat harus berjalan kaki, kapan harus naik angkutan umum, kapan harus naik transportasi online dan kapan boleh menggunakan kendaraan pribadi.

Tentu setiap kebijakan pasti ada pro dan kontra. Tidak masalah bagi yang pro, karena berarti setuju dengan adanya Undang-undang ini. Bagi yang kontra, yang terbayang oleh saya adalah pasti akan ada protes karena selama ini jarak antara tempat kerja dengan tempat tinggal cukup jauh sehingga dengan adanya undang-undang ini mereka seperti kerepotan. Antisipasinnya yaitu pemerintah harus memberikan kebijakan bagaimana agar ada mekanisme masyarakat punya aset tempat tinggal baru yang murah dan dekat dengan tempat mencari nafkah sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki, atau naik sepeda atau setidak-tidaknya hanya dengan naik kendaraan umum satu kali naik-turun. Dengan dasar asumsi, bahwa aset tempat tinggal yang saat ini ada adalah aset untuk tempat tinggal di hari tua dan pensiun, sedang aset tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja dan murah seperti rumah susun, apartemen adalah tempat tinggal saat produktif kerja dan belum pensiun.

Demikian masukan saya kepada pemerintah, semoga masukan saya dilirik dan berguna. Salam..

Minggu, 14 April 2019

Pengalaman Tes Kerja Samator Group

Halo semua..
Kali ini saya ingin share pengalaman saya saat mengikuti proses seleksi di Samator Group cabang Bandung. Sebelumnya, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu apa itu Samator Group. Dikutip dari websitenya, Samator Group kurang lebih dapat disebut sebagai perusahaan yang memproduksi berbagai macam jenis gas untuk kebutuhan industri, seperti gas oksigen untuk rumah sakit, gas neon untuk perusahaan yang memproduksi lampu neon, dll. Karena bentuknya Group, maka ada anak usahanya, diantaranya adalah PT Anega Gas Industri, PT Samator Gas Industri, dll. Khusus untuk PT Anega Gas Industri ini, memang mantan BUMN yang diakuisisi oleh Samator Group.

Kurang lebih 1 bulan lalu saya mengikuti proses seleksi di Samator Group. Alhamdulillah saya diterima namun saya pada akhirnya memutuskan tidak mengambil pekerjaan disini dengan berbagai pertimbangan.

Oke! pada awalnya saya dapat info loker di Samator Group dari Jobstreet sebagai Staf Akunting. Setelah saya apply, kurang lebih 1 bulan kemudian saya mendapatkan email untuk mengikuti proses seleksi. Proses seleksi ini terdiri dari:

1. Mengisi Biodata
Saat saya sampai di lokasi tes, tepatnya di kantor perwakilan Samator Group di Jakarta (kantor pusat Samator Group adanya di Surabaya), saya diminta untuk mengisi biodata. Disini saya harus mengisi berbagai data diri, orang tua, pengalaman kerja, dan menjawab pertanyaan tertulis di form yang disediakan. Kalau bisa anda sudah membawa alat tulis, fotocopy KTP, kartu keluarga, data-data pekerjaan sebelumnya, pengalaman organisasi, dll.

2. Tahap Wawancara Dengan HRD
Ditahap ini, sama seperti wawancara pada umumnya dimana kami (peserta tes) diberi pertanyaan. Jadi, saat itu tiap peserta dipanggil per orang ke sebuah ruangan untuk ditanya. Berdasarkan hasil diskusi dengan peserta lainnya, pertanyaan yang disampaikan ternyata berbeda-beda. Misalnya peserta lain ada yang hanya ditanya "Seberapa teliti anda?", setelah itu disuruh keluar karena pertanyaan ini ternyata dugaan saya karena peserta tes tersebut tidak teliti mengisi biodata. Jadi mungkin saja HRDnya ingin menguji apa Ucapan dengan Tindakan sesuai atau tidak. Pertanyaan lainnya, yaitu"Gaji yang diharapkan?". Untuk peserta yang mendapatkan pertanyaan ini, disuruh pulang dan dinyatakan tidak lolos karena HRDnya menyampaikan gaji yang diminta terlalu besar. Untuk pertanyaan yang saya terima yaitu "Apa yang anda ketahui tentang perusahaan ini?"; "Sebutkan jenis-jenis laporan keuangan!". Untuk pertanyaan ini, saya bisa menjawabnya.

3. Tahap Tes Akuntansi
Jadi, setelah tahap wawancara selesai, kebetulan saya diminta tes tahap berikutnya yaitu tes akuntansi. Di tes ini, saya disajikan soal studi kasus tentang akuntansi perusahaan dagang. Saya harus membuat jurnal, menghitung harga pokok penjualannya, menyajikan laporan rugi-laba dan membuat jurnal penutupnya.

4. Tes Psikologi
Tes berikutnya, setelah tes akuntansi yaitu tes psikologi. Tes ini dilakukan pada hari yang sama dengan tiga tahap tes di atas. Kebayang kan cape-nya saya. hehe. Di tahap ini, tesnya sama seperti tes psikologi pada umumnya. Jika diurutkan, tes ini terdiri dari EPPS Test, dilanjut Draw A Man Test, dan terakhir BAUM Test.

Empat tahap di atas, saya lalui dihari itu juga, dimulai sekitar jam 9 pagi dan selesai jam 3 sore. Setelah tes psikologi, saya diberi tahu bahwa kalau lolos akan dipanggil tahap berikutnya. Alhamdulillah, dua/tiga hari kemudian saya dikirim email dan dinyatakan lolos tahap berikutnya dan diminta untuk tes lanjutan. Dan tes lanjutan ini yaitu:

5. Wawancara dengan User dan Pimpinan Perusahaan
Ini adalah tes yang cukup menegangkan. Bagaimana tidak! saya dan peserta tes lainnya yang sudah lolos tahap sebelumnya dikumpulkan. Saat itu ada sekitar 8 orang peserta untuk dites di tahap ini. Pihan pewawancara dalam hal ini kalau tidak salah adalah kepala akuntansi kantor pusat dan 2 lainnya adalah pimpinan perusahaan. Pertanyaan yang diajukan ke saya yaitu pengetahuan tentang profil Samator Group, Motivasi Kerja, Pengetahuan tentang Akuntansi dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Setelah tes tahap 5 selesai, saya dipersihkan untuk pulang dan menunggu kabar berikutnya. Dan mengejutkan! tidak lebih dari 2 jam, saya ditelepon dan dikabari kalau saya diterima. Saat itu saya hanya bisa bersyukur. Kemudian saya diminta konfirmasi email kesediaan bekerja atau tidak setelah sebelumnya perusahaan mengirimkan email kalau saya diterima bekerja dan melampirkan negosiasi gaji. Sayapun membalas email konfirmasi yang intinya saya siap bekerja dan siap mengikuti aturan perusahaan dan bersedia menerima gaji yang ditawarkan. Ketika itu, saya diminta untuk datang ke kantor anak perusahaan Samator Group yang ada di Bandung untuk pengarahan selanjutnya. Namun, seperti yang saya ungkapkan di awal bahwa berdasarkan pertimbangan berbagai hal akhirnya saya tidak mengambil pekerjaan ini dan menyampaikan pengunduran diri.

Sebagai penutup, tips saya adalah anda harus rajin baca-baca di internet tentang pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan pada tahap wawancara, anda harus membaca dan memahami profil perusahaan mulai dari kegiatan bisnisnya, sejarah, visi-misi, dll. Selain itu kalau bisa anda juga sedikit banyak baca tentang tes-tes psikologi yang sering muncul di tahap tes kerja dan mencoba sedikit berlatih. Terkhir, anda juga harus pastikan pengetahuan anda sudah baik di bidang yang sedang anda lamar. Contoh, saya kan lamar Staf Akuntansi maka saya juga harus setidaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan mumpuni di bidang akuntansi. Tentu untuk mencapai pengetahuan dan keterampilan Akuntansi saya tidak bisa belajar 1 malam tapi proses mencicil tiap hari belajar. Tips terakhir, sebelum anda memutuskan untuk mengikuti tes di suatu perusahaan, anda juga harus survei di website tentang pendapat karyawan atau mantan karyawan atas perusahaan tersebut. Dan, anda juga harus melakukan survei di internet, berapa gaji rata-rata di posisi yang anda lamar di perusahaan tersebut. Saran saya, saat ditanya gaji oleh pewawancara diharapkan anda menjawab dengan besaran nominal gaji hasil survei supaya anda tidak dianggap kemahalan.

Tetap semangat buat kalian semua yang mau dipanggil tes masuk kerja. Jangan berkecil hati kalau tidak diterima. Percayalah, dibalik kesuksesan saya diterima di Samator Group, saya sudah melalui banyak kegagalan tes masuk kerja sebelumnya, tapi saya selalu mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut dan melakukan evaluasi. Tetap semangat dan terus berjuang ya...

Tips Suku Non Jawa Bisa Menjadi Presiden

Pemilu 2024 masih sekitar 2 tahun lebih sejak saya membuat tulisan ini. Salah satu yang menjadi konsern kita adalah tentang kita akan memili...