Hallo semua,
Alhamdulillah malam ini saya dapat menyempatkan kembali menulis di blog saya ditengah-tengah kesibukan saya bekerja. Kali ini artikel yang akan saya tulis adalah tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Sudah lama sekali saya ingin menulis artikel dengan judul ini. Saat menyetir motor, saat di kamar mandi, saat di tempat tidur, di tempat kerja selalu kepikiran ingin mengeluarkan ide pikiran tentang pendapat saya terhadap orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Akhirnya kesampaian juga. Sesuatu yang harus saya syukuri.
Kenapa saya ingin sekali menulis tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik? karena saya merasa resah melihat kondisi di tanah Jawa Barat , terutama di kota-kota besarnya, rata-rata semua fasilitas umum seperti jalan raya yang semrawut, trotoar dipakai untuk pedagang, penggundulan hutan, banjir, fasilitas pendidikan yang amburadul, kotor dan sampah tidak dibuang pada tempatnya dan masalah umum lainnya. Singkat cerita, karena kepedulian saya pribadi, saya kemudian merenung dan menyimpulkan bahwa orang sunda cenderung rata-rata individualis, sulit diajak bekerjasama dan jarang mau terlibat terhadap kegiatan-kegiatan untuk kepentingan umum, ceuk bahasa sunda namah hare-hare. Dengan sikap kehare-harean inilah membuat orang sunda menjadi tidak peduli terhadap kepentingan umum sehingga masalah-masalah umum terjadi. Walaupun saya juga mengerti bahwa sikap kehare-harean orang sunda salah satunya karena faktor geografis yang mana orang sunda rata-rata hidup di daerah pegunungan sehingga cenderung lebih suka jarang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain sehingga jarang berkoordinasi dalam sistem kehidupan sosial dan membentuk rata-rata menjadi karakter individualis.Tentu ini adalah tantangan orang sunda. Kita lanjut ya...
Kesimpulan saya tentang orang sunda kemudian diperkuat ketika saya berlibur ke Yogyakarta dan ke Surabaya 1 bulan yang lalu saat sekalian honey moon pernikahan saya dengan istri saya. Betapa kagetnya saya, melihat rata-rata jalanan di kota Yogyakarta, Surabaya, rapih, hampir tidak ada trotoar yang dipakai untuk berdagang, orang-orangnya rata-rata tertib, jalanan tidak terlalu macet, jalanan ke pelosok desa saat menuju candi borobudur dan prambananpun rapih dan saya sangat menikmatinya. Dari sini saya kemudian berfikir apa yang menyebabkan perbedaan antara di tanah Sunda dan di tanah Jawa terjadi. Ditanahnya orang-orang Jawa kok serapih ini, tertib, fasilitas umumnya memiliki fasilitas yang cukup baik. Singkat cerita pula akhirnya saya juga merenung dan berkesimpulan yang kedua, bahwa orang-orang Jawa sangat mencintai fasilitas umum, patuh terhadap pemerintah, mau terlibat terhadap mengurus fasilitas-fasilitas umum. Kesimpulan ketiga, akhirnya saya tahu kenapa banyak pemimpin negara rata-rata berasal dari suku Jawa, alasannya adalah karena dalam hal-hal mengurus fasilitas umum, mereka sangat baik, sehingga pantas diamanahi dan dianugerai oleh Allah SWT menjadi pemimpin negara dan presiden. Sebuah jabatan yang bertugas mengurus fasilitas rakyat. Bukan karena masalah suku Jawa adalah suku mayoritas sehingga mudah menjadi presiden, tapi fakta menunjukan mereka lebih baik dalam mengurus fasilitas umum.
Oke jadi.. sudah ketemulah masalah utamanya bahwa orang sunda rata-rata individualis, dan kurang peduli terhadap kepentingan umum. Lalu apa hubungannya dengan yang akan saya tulis tentang orang sunda dan pemahamannya terhadap politik? Ya.. tentu ada hubungannya. Perlu saya kasih tahu bahwa politik dapat dimaknai sebagai tentang kepentingan umum (versi saya). Orang yang peduli terhadap kepentingan umum adalah pasti orang politik. Kenapa bisa begitu? Begini ya... pada hakekatnya politik itu menurut saya sudah muncul sejak nabi Adam dan siti Hawa (Istirinya) turun ke bumi. Ketika bumi hanya diisi oleh nabi Adam dan siti Hawa, tidak ada konsep, budaya kepentingan umum atau politik muncul. Kenapa demikian? jawabannya karena penghuni manusia hanya ada 2 orang di bumi ini pada saat itu, yaitu mereka berdua saja. Sehingga tidak perlu ada kepentingan umum yang perlu diatur. Namun bayangkan ketika nabi Adam dan siti Hawa mulai memiliki keturunan, manusia semakin banyak, orang semakin berebut sumber daya yang sifatnya terbatas yang dapat disediakan di bumi ini. Akan banyak hal-hal yang harus diatur, seperti pembagian makanan, bagaimana bercocok tanam, bagaimana mengatur sumber air, dan mengatur fasilitas-fasilitas umum lainnya. Bayangkan kalau fasilitas air, bagaimana kalau sistem cocok tanam tidak diatur oleh keturunan nabi Adam yang jumlahnya semakin banyak. Akan ada banyak kekacauan yang terjadi. Jadi... itulah hakekatnya politik. Politik adalah tentang kepentingan umum.
Kembali ke soal orang sunda dan pemahamannya terhadap politik. Dari dulu orang sunda sudah ditanamkan tidak terjun ke dunia politik, karena politik itu kotor. Ini adalah pernyataan yang sangat berbahaya. Efeknya akan membentuk karakter orang sunda yang cenderung individualis dan tidak peduli kepentinga umum. Bahkan karena tidak mau terjun ke dunia politik, suatu saat identitas orang sunda dan suku sunda akan hilang karena tidak ada orang sunda yang peduli terhadap masyarakat sundanya sendiri. Pemahaman orang sunda selama ini tentang politik yang hanya sebatas politik itu merebut kekuasaan secara curang, gabung menjadi anggota partai, terlibat jadi ketua ormas, adalah pemahaman yang sempit. Saya perlu tekankan bahwa makna politik itu luas, tetapi intinya politik adalah soal kepentingan umum. Jadi, kalau orang terlibat dalam sistem kepentingan umum berarti dia adalah orang politik. Ikut berpartisipasi mencoblok ke TPS, merawat fasilitas WC umum, tidak berdagang di trotoar, menerapkan budaya antri, ikut mendaftar menjadi calon bupati, presiden adalah bentuk dari politik. Sekali lagi fahami bahwa politik adalah soal kepentingan umum. Lebih luas lagi, politik yang bermakna sebagai segala sesuatu tentang kepentingan umum, tidak hanya soal keterlibatannya di partai politik, mendaftar menjadi calon pemimpin negara, tetapi politik juga ada di lingkungan keluarga. Contohnya suami dan istri saling bekerja sama, dimana istri memasak, suami menyetrika, berarti suami istri ini sedang berpolitik, yaitu mengatur kepentingan umum bagi anggota keluarganya. Bayangkan kalau tidak ada kerjasama antara suami dan istri untuk berbagi tugas menyetrika dan memasak. Politik juga terjadi di dunia bisnis. Pemimpin perusahaan mengurus mensejakterakan karyawan adalah berarti pemipin perusahaan tersebut sedang berpolitik atau mengatur kepentingan umum bagi seluruh karyawannya. Jadi sekali lagi politik itu tentang kepentingan umum yang maknanya luas... Itulah kenapa aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon yang artinya manusia adalah hewan yang bermasyarakat. Kita semua bermasyarakat dan ujung-ujungnya tentu adalah mengatur kepentingan umum ketika bermasyarakat.
Saya berharap dari semua yang saya jelaskan di atas, orang sunda semuanya mulai merubah persepsi tentang politik. Ingat politik itu penting, karena politik adalah soal kepentingan umum. Dari tulisan saya di atas dapat pula disimpulkan apa yang akan terjadi kalau seandainya orang sunda tidak peduli terhadap politik. Ingat makna politik itu luas, karena politik adalah soal kepedulian terhadap kepentingan umum. Politik (sebagai kepentingan umum) dapat terjadi di keluarga dimana suami, istri, anak semuanya berpolitik, di perusahaan juga berpolitik, apalagi di dunia pemerintahan juga berpolitik.
Saya adalah orang sunda dan peduli dengan tanah kelahiran saya ini. Mudah-mudahan tulis saya di atas yang dibuat dengan hati yang tulus dapat bermanfaat bagi orang sunda khususnya, dan bagi semua yang membaca artikel saya ini pada umumnya. Terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar